Don’t Play in the Street

“Mama always told me, don’t play in the street

Never talk to strangers and look before you leap

She had a list a mile long, what I should and shouldn’t do…..”

Kata-kata petuah seperti yang terlantun dalam lagu Mama Never Told Me ’bout You dari The Moffatts ini, menjadi makananku sehari-hari. Orang tuaku dan mungkin Anda mendoktrin kita dengan hal-hal itu. Namun, aku heran saat melihat banyak anak kecil di sekitar kos, yang bermain di jalan. Jumlah mereka yang mencapai ratusan menimbulkan pengendara kendaraan bermotor kesulitan melintas.

Anehnya, ibu mereka membiarkan anaknya berkeliaran di tengah jalan saat kendaraan melintas. Tak ada tanggapan sama sekali, meski mereka melihat aksi jagoan-jagoan kecilnya. Saya selalu bertanya dalam hati, “Mereka pernah didoktrin seperti aku ga sih?” Mereka pernah mendengar kalimat perintah, “Jangan bermain di jalan!” tidak?

Akhirnya, saya mendapat jawabannya Minggu (28/2) pagi, saat menunggu pecel lele di warung Mbak Jutek, Palmerah. Sang pemilik, sebut saja Ibu X, sedang memarahi anaknya karena bermain bola di dalam rumah. Sebuah kalimat meluncur dari mulutnya. Kalimat yang menjawab semua pertanyaan tentang banyaknya anak yang bermain di jalan tanpa menghiraukan lalu lintas.

“Jangan bermain di rumah. Kalau mau main, sono noh di jalan!” Oh My God….

Mungkin ada beberapa faktor yang membuat sang ibu menyuruh anaknya bermain di jalan.

#1. Tidak adanya fasilitas taman bermain, baik di rumah maupun di tempat umum.

#2. Kurangnya pendidikan, sehingga kesadaran akan bahaya bermain di jalan, kurang.

#3. Kebiasaan.

Ketiganya berlaku untuk kasus yang aku saksikan di Kemandoran, Jakarta Barat, ini. Tapi mau bagaimana lagi ya???? Susah jika itu semua sudah menjadi kebiasaan

Published in: on February 28, 2010 at 2:16 pm  Leave a Comment  

Tantangan #2

Momen yang satu ini merupakan saat yang menyenangkan bagi Saya dan Maya. Sebab, kami menemukan RESEP BARU!!!! Horeeee!!! Masakan ini sangat mudah dibuat karena tak membutuhkan banyak bumbu dapur. Sangat cocok untuk anak kos.

Masakan ini terlahir saat kami bosan dengan masakan konvensional seperti tumis kangkung. Kami ingin sesuatu yang beda. Apalagi malam itu kami sedang menunggu pergantian tahun 2009 ke 2010.

Kami pun mengumpulkan bahan-bahan yang kami punya. Kami hanya punya tepung terigu, tepung kobe, telur ayam, susu, bawang, dan oat.

Tahu mendoan, tahu kobe, tahu goreng, sudah sering kami buat. Hmmmm… akhirnya kami memutuskan untuk membuat steak tahu.

Tahu yang telah kami bumbui dengan bawang putih, garam, dan sebuah bumbu rahasia, kami lumuri telur. Setelah itu, kami masukkan ke oat sampai permukaan tahu tidak terlihat. Lalu, goreng.

Kelemahannya, minyak menjadi gampang kotor karena ada oat yang terlepas dari tahu. Hanya saja, menggoreng tahu oat memerlukan waktu lebih singkat daripada menggoreng tahu tepung atau kobe.

Hari semakin malam, kami memutuskan memindah lokasi memasak dari kamar Maya yang berada di lantai dua ke kamar saya yang terletak di lantai satu. TV pun kami nyalakan untuk menambah kemeriahan merayakan tahun baru. Tapi ternyata, itu justru melemahkan semangat memasak kami.

Alhasil, saus steak tahu ini tak jadi kami buat. Tapi steak tahu tersebut enak juga lho dinikmati tanpa saus. Rasanya Mak Kress! Hehehehehe….

Nama masakan: Steak Tahu Baru

Note: Jangan pernah menyalakan TV saat Anda memasak!

Published in: on January 10, 2010 at 8:59 am  Leave a Comment  

Tantangan #1

Sebenarnya ini terjadi sebelum tahun baru, tanggal tepatnya saya lupa. Namun, saya masih ingat kejadiannya. Pada hari itu, saya dan Maya berencana untuk memasak sayur bayam. Menurut dia, aku harus berlatih memakan sayuran untuk menjaga stamina sebelum tes medical check up untuk syarat masuk perusahaan M.

Maya bertanya sayur apa yang paling saya suka. Saya jawab, “Bayam.” Lalu, pergilah kami ke Pasar Palmerah.

Namun, saya tidak bisa ikut memasak karena ada panggilan mendadak dari user freelance.

Sekitar 5 jam saya meninggalkan maya dan masakan kami. Ternyata semua masakan telah dirampungkannya, termasuk bayam punyaku. Otomatis, kami langsung menyantap makanan tersebut.

Hari itu saya hanya makan memakai sayur bayam. Sebuah rekor baru, karena saya sangat jarang makan nasi hanya berlauk sayur. Menurut saya, sayur itu rasanya aneh!

Saat itu, nasi putih yang masih hangat tenggelam di antara kuah dan sayur bayam di mangkok. Harum baunya. Saat memakannya, tiba-tiba saya merasa seperti bermimpi….

???????

Ada apakah gerangan?

Hmmm…. bagaimana menjelaskannya ya? Sulit, rasanya aneh. Yang paling kentara, rasa sayur yang saya makan tadi sangat sangat sangat sangat MANIS!!!!

Kemudian saya bertanya kepada Maya. “May, kok rasanya manis ya? Tadi kamu beri gula berapa?” (sebagai pengganti penyedap rasa, kami menggunakan gula).

“TIGA SENDOK..,” kata dia lempeng. HAAAAAAH!!!! TIGA SENDOK?????

“Di daerahku, Solo, sayur bayam memang manis seperti itu,” jelasnya.

“Serius nih?”

Apakah benar? Sampai saat ini saya masih penasaran lho.Sejak saat itu, setiap akan memasak, kami berdiskusi terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi. Ternyata ada sejumlah masakan dengan nama sama, tetapi berbeda bumbu dan cara memasak lho. Padahal Solo dan Kudus, sama-sama di Jawa Tengah kan?

Published in: on January 10, 2010 at 8:42 am  Leave a Comment  

Tantangan 30 Masakan dalam 30 Hari

Hmmm….. mungkin bagi penggemar memasak, 30 masakan dapat dibuat dalam hitungan jam. Namun, masak-memasak ini, dunia baru bagi saya. Ide ini tercetus saat saya menganggur alias jobless.

Menganggur adalah sesuatu yang sangat tidak mengenakkan. Bagaimana tidak? Otak saya terasa menumpul karena tidak pernah berpikir dan tertantang lagi.

Suatu hari saya menonton film Anna and Annie (sebenarnya saya agak lupa judulnya).  Film itu bercerita tentang dua orang yang sangat suka memasak. Mereka hidup di era yang berbeda. Si Anna (lakon yang hidup di era sekarang) merasa jengah dengan rutinitas hidupnya. Dia merasa tak bergairah.

Lalu, suaminya menyarankan agar Anna menekuni hobi memasaknya. Suaminya pun membuat blog agar Anna dapat menuliskan pengalaman dalam menantang dirinya sendiri. Ya, Anna menantang dirinya sendiri untuk membuat ratusan masakan dalam beberapa bulan.

Nah, film inilah yang menginspirasi saya dan akhirnya tercetus ide “Membuat 30 masakan dalam 30 hari.” Itu berarti saya harus membuat satu masakan dalam satu hari. Karena belum berpengalaman sama sekali, akhirnya saya meminta bantuan seorang teman, Maya.

Masakan yang telah kami buat sejak tercetusnya ide ini, 24 Desember 2009, antara lain sayur bayam, balado, tumis kangkung, dan semur. Sekilas masakan ini sama dengan yang lainnya, jika Anda belum melihat dan merasakannya. Hehehehehe….

Keterbatasan bumbu, pengetahuan memasak, dan modal, membuat kami lebih kreatif. Misalnya saat membuat semur. Dana kami terbatas, apalagi saya pengangguran. Jadi kami harus memutar otak untuk mengganti bahan utama semur yang biasanya berupa daging, ayam, telur, dan jengkol. Pilihan kami jatuh pada tahu. Akhirnya kami membuat semur tahu.

Dari sinilah saya benar-benar merasakan, kemiskinan itu membuat kita lebih kreatif dan belajar lebih banyak. Sebab, dari sinilah tercipta masakan baru (khususnya buat saya). Saya juga banyak belajar mengenai kebudayaan daerah. Meski saya dan Maya sama-sama bersuku Jawa, cara memasak di daerah kami ternyata jauh berbeda.

Hehehehehe…

Sayangnya, tantangan ini tak berjalan mulus. Ada kalanya kami terlalu capek untuk memasak. Ya, maklumlah, pengacara alias pengangguran banyak acara.

Sekarang, 10 Januari 2010 ini, saya bertekat untuk memasak kembali. Jadi, doakan saya!

Published in: on January 10, 2010 at 8:21 am  Leave a Comment  

Setahun yang Lalu….

Setahun yang lalu…. bulan yang sama, kebingungan sedang melandaku… Kebingungan untuk melaksanakan tugas ke Sumatera Selatan. Hanya sebuah nomor telepon, tiket ke Palembang, daftar liputan, dan sejumlah uang yang dibekalkan kepadaku. Penginapan, kendaraan, dan jadwal liputan, aku yang mengatur sendiri.

Hal yang membuatku bingung adalah aku sama sekali belum pernah ke Sumatera Selatan. SENDIRIAN PULA!! Kantor tentunya tidak mau tahu bagaimana cara aku sampai ke tempat-tempat itu. But its Ok! Duty is duty!

Aku punya waktu satu minggu untuk berada di sana. Tugasku meliput 10 tempat wisata (wajib), sejumlah wisata kuliner, dan beberapa objek wisata tambahan. Perkiraanku saat itu, ada sekitar 30 tulisan yang akan kutulis.

Sepuluh objek wisata wajib itu adalah, Benteng Kuto Besak, Masjid Agung Palembang, jembatan merah, tour to Musi, Museum Sumatera Selatan, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Pulau Kemaro, Danau Ranau, Gua Putri, dan Taman Nasional Sembilang.

Hal pertama yang aku lakukan adalah memetakan semua objek wisata itu. Setelah memetakannya, woww!! Aku benar-benar akan mengelilingi Sumatera Selatan dalam 7 hari!

Nah, aku mencoba akan menceritakan kembali pengalamanku selama 7 hari berkeliling Sumatera Selatan SENDIRIAN! Harap dimaklum jika gregetnya mulai luntur. Tapi aku jamin perjalanan ini akan tergambar jelas. Sebab, perjalanan inilah yang mengubah hidupku…..

Published in: on December 4, 2009 at 7:28 am  Leave a Comment  

So Simple

We… akirnya punya blog. Blog ini berguna sebagai media penyaluranku. Sejak keluar dari pekerjaan sebagai Jurnalis, jari-jariku selalu gatel untuk menyentuh tuts keyboard komputer…. Hmmm… boleh dibilang blog ini adalah pengobat kerinduanku akan dunia tulis menulis….

Blog ini juga akan aku gunakan sebagai media untuk mempublikasikan tulisanku yang tidak termuat di tiga media yang pernah aku diami. So…. let’s the story goes……

Published in: on December 3, 2009 at 8:37 am  Comments (2)  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: on December 3, 2009 at 7:51 am  Comments (1)